Senin, 21 Januari 2019

10 Fakta Seputar Sunda Tangerang

*10 Fakta seputar Bahasa Sunda Tangerang.*

Apakah kalian memikiki Saudara, Kerabat, atau bahkan Mantan orang Sunda Tangerang? Jangan kaget dan heran yah jika Orang Sunda Tangerang menggunakan kosakata bahasa Sunda yang berbeda dengan Sunda di wilayah Jawa Barat pada umumnya. Berikut ini 10 Fakta seputar Sunda Tangerang :

1.Bahasa Sunda yang digunakan oleh masyarakat Tangerang tidak menggunakan sistem UUBS (Undak Usuk Basa Sunda) atau tingkatan dalam bahasa Sunda. Bahasa Sunda Tangerang lebih demokratis dan egaliter, tidak terlalu memisahkan dan menggunakan kosakata berbeda ketika berbicara dengan keadaan marah, berbicara ke sebaya, dan berbicara kepada orang yang punya pangkat, atau yg harus dihormat.

2.Sunda Tangerang tidak menggolongkan tingkatkan bahasanya kedalam tiga tingkat yg terdapat pada sistem UUBS yaitu Kasar, Loma, dan Lemes/Hormat.
Sunda Tangerang hanya memisahkan kosakata yang sopan/formal dan tidak sopan/tidak formal.

3.Penggunaan kata 'Aing' dan 'Sia' sangat populer di Sunda Tangerang kata 'Aing' dan 'Sia' sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, akan tetapi tidak digunakan ke orang yg lebih tua karna dianggap kurang sopan, tapi kosakata lainnya seperti, Euweuh, Dahar, Loba, Ngomong dll. Tetap digunakan baik berbicara ke sebaya maupun ke orang yg lebih tua.

4.Orang Sunda di wilayah Jawa Barat beropini Sunda Tangerang merupakan Sunda Kasar dan tidak beraturan, begitu pula dengan orang Sunda Tangerang yg beropini Sunda di wilayah Jawa Barat memiliki aturan yg rumit dan terdapat kosakata yg sulit dipahami. Akan tetapi opini ini timbul karna terlalu membandingkan Sunda di wilayah Jawa Barat dengan Sunda di daerah Tangerang, semestinya budaya dan bahasa tidak perlu dibanding-bandingkan antar daerah satu dengan daerah lainnya karna setiap daerah memiliki keanekaragaman dan keunikan budaya dan bahasanya masing-masing. Tidak ada budaya dan bahasa yg lebih bagus dan yg lebih jelek tetapi semua memiliki keunikannya masing-masing.

5.Berdasarkan sejarah, di tahun 1500 an terdapat Naskah Sunda Kuna yg menunjukan bahwa bahasa Sunda pada saat itu sangat demokratis dan egaliter, bahkan dalam dalam salah satu skrip naskah (Para Putera Rama dan Rawana) menggunakan kata 'Siya / Sia' dan 'Aing' dipakai untuk berdo'a kepada yg maha kuasa. Tingkatan bahasa dalam bahasa Sunda Sunda di buat pada tahun 1700 an, tingkatan ini dipengaruhi oleh kerajaan Mataram yang saat itu berhasil menguasai kerajaan Sunda/Galuh. Sedangkan diwilayah Banten khususnya Tangerang tidak terpengaruh oleh tingkatan bahasa yg diterapkan oleh Mataram. Sehingga ada yg menilai bahwa Sunda Tangerang merupakan Sunda Kolot/Sunda Asli yg tidak terpengaruh oleh tingkatan bahasa yg dibuat oleh Mataram dan dikukuhkan oleh kolonial Belanda ini.

6.Masyarakat Sunda Tangerang memiliki keunikan Kosakata dan Dialek/logat tersendiri, jika masyarakat Sunda Priyangan memiliki Dialek yang Rendah dan berayun-ayun, sedangkan Masyarakat Sunda Tangerang memiliki Dialek yang Tinggi dan berliuk-liuk.

7. Kata 'Jasa' (Banget/Sangat), 'Pohara' (Luar Biasa), dan Hees (Tidur) Merupakan contoh beberapa kosakata yang kerap digunakan oleh masyarakat Sunda Tangerang tetapi jarang atau hampir tidak pernah digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

8. Walau kerap disebut Sunda nya Masyarakat Tangerang Sunda Kasar, tapi dalam kontek percakapan sehari-hari dengan teman akrab atau dalam keadaan bercanda bahkan marah, Masyarakat Sunda Tangerang khususnya kalangan pemudanya sangat minim menggunakan kata hewan seperti 'Anj*ng' atau 'Any*ng'.

9. Di penghujung tahun 2017, terdapat sekumpulan Pemuda Sunda Tangerang yang menciptakan wadah untuk bergerak melestarikan budaya dan bahasa Sunda Tangerang, Wadah ini mereka namai 'Aing Urang Sunda Tangerang' atau yang disingkat menjadi *Aing Tangerang*. Di pertengahan 2018 wadah ini mampu mengumpulkan anggota dan mambuat wadahnya menjadi badan hukum Yayasan Sosial/Kebudayaan, Kemanusiaan, dan Kegamaan, serta memiliki SK Kemenkumham. Gerakan Aing Tangerang ini memiliki beberapa tujuan diantaranya Membuat Bahasa Sunda Tangerang kembali digunakan oleh masyarakat Sunda Tangerang khususnya kalangan pemuda yang saat ini sudah mulai meninggalkan bahasa daerahnya sendiri.
Membuat masyarakat Sunda Tangerang bangga akan bahasa asli daerahnya sendiri. Dan dapat mewadahi Masyarakat Sunda Tangerang agar bisa bersama-sama melestarikan budaya dan bahasa Sunda Tangerang.

10. Yayasan Aing Tangerang memiliki berbagai kegiatan seperti mengenalkan dan mempopulerkan kosakata Sunda Tangerang melalui Media Sosial, Merchandise, dan Grup Forum Masyarakat Sunda Tangerang. Melestarikan kesenian Sunda dengan membuat acara pentas kesenian Sunda yg bekerja sama dengan para pelaku Seniman Sunda serta para paguyuban warga Sunda.
Melakukan kegiatan sosial dengan memberdayakan Masyarakat Sunda Tangerang dibidang usaha kreatif.
Melakukan kegiatan kemunusiaan dengan melakukan santuan yatim piatu dan duafa serta kegiatan bedah rumah tak layak di sekitar Tangerang.
Melakukan kegiatan keagamaan dengan ikut serta dalam acara Pengajian, Peringatan Hari Besar Islam, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Mari dukung gerakan Aing Tangerang dalam melestarikan budaya dan bahasa Sunda Tangerang.

*Muhamad Nur, SS. (kang Udel)*
Pendiri dan Ketua Umum Aing Tangerang

*Silahkan sebarkan pesan ini agar masyarakat umum mendapatkan informasi tentang Sunda Tangerang.*

SUNDA TANGERANG BANGKIT...
SUNDA TANGERANG UNIK...
SUNDA TANGERANG ULAH SAMPE LEUNGIT...!!

Kamis, 18 Oktober 2018

Penggunaa dan arti Kata 'Aing' dalam versi Sunda Tangerang

Kata Aing familiar di Sunda Tangerang, namun tidak dipakai kepada lawan bicara yang lebih tua.

Pada tahun 1570 M, Bahasa Sunda sangatlah demokratis, tidak memiliki tingkatan bahasa.
Pada petikan naskah Para Putera Rama dan Rawana, yang disusun sebagai lampiran kisah Ramayana, yang diperkirakan digubah pada abad 16, kata Aing dipakai untuk berdoa kepada yang maha kuasa, (sumber : Tirto.id) terbukti pada jaman itu memang tingkatan bahasa belum diberlakukan dalam bahasa Sunda.

Namun, diawal 1620 M, Bahasa Sunda menerapkan system feodalisme (tingkatan dalam bahasa) Hal ini tak lepas dari pengaruh kerajaan Mataram yang pada saat itu menduduki wilayah Jawa Barat.
Sedangkan untuk Wilayah Banten tidak terkuasai oleh kerajaan Mataram sehingga bahasa Sunda diwilayah Banten tidak terpengaruh oleh Undak Usuk Basa Sunda (UUBS).

Meskipun tidak terpengaruh oleh UUBS namun ada beberapa kosakata Sunda Tangerang atau Banten pada umumnya tetap diberikan batasan-batasan, seperti kata pengganti orang tunggal (Aing), penggunaan kata 'Aing' sangatlah dominan di wilayah Sunda Tangerang sehingga kata ini menjadi kata yang sangat familiar bagi masyarakat Sunda Tangerang, masyarakat Sunda Tangerang sangat jarang atau hampir tidak pernah menggunakan kata ‘Abdi, Uing, Simkuring’.

Sunda Tangerang memang tidak memakai UUBS, namun dalam penggunaan kata 'Aing', masyarakat Sunda Tangerang juga cukup berhati-hati, terutama dalam penggunaannya terhadap lawan bicara yang jauh lebih tua, dalam kontek ini biasanya, kami mengganti kata 'Aing' dengan kata, 'Urang', 'Saya', atau 'Kula'.

Di Sunda Tangerang untuk menghargai yang lebih tua atau bersikap sopan dalam berbicara cukup mengganti kata pengganti orang saja tapi tidak perlu mengganti kata-kata lainnya, berbeda dengan Sunda yang di Jawa Barat dan sekitarnya menggunakan UUBS untuk semua kosakatanya.

Contoh Percakapan Sunda Tangerang : Seorang Anak berbicara kepada Bibinya : “Bi, keur ngasakeun naon? Hayang dahar, Urang geus lapar jasa yeuh” (Bi, sedang masak apa? Pengen makan, saya uda laper banget nih) dalam kontek percakapan ini si anak merubah kata Aing menjadi Urang tapi tidak dengan kosakata lainnya seperti kata, ‘Dahar, Geus’, yang dalam kontek UBBS ini tidak diperuntukan untuk digunakan kepada lawan bicara yang lebih tua, sedangkan untuk kata ‘Jasa’ hanya digunakan di Sunda Tangerang sedangkan diwilayah Jawa Barat menggunakan kata ‘Pisan’ sebagai arti kata ‘Banget’.

Kata Aing juga memiliki makna arti sebuah kebanggan, gaul, dan kebebasan. ‘Aing’ ini seperti halnya kata ‘Gue’ yang dipakai oleh warga Jakarta atau Betawi umummnya. Ini terlihat dari tagline supporter Persib, meskipun didaerah Bandung kata Aing dikategorikan kata Sunda Kasar namun mereka jauh lebih bangga memakai tagline ‘Aing Persib, Persib Nu Aing’ bukan ‘Abdi Persib, atau ‘Persib nu Abdi’

Maka dari itu, sebuah gerakan pelestarian bahasa Sunda Tangerang memakai nama ‘Aing Urang Sunda Tangerang’ atau yg dipendekan menjadi ‘Aing Tangerang’ alasannya selain kata ‘Aing’ sangat familiar bagi warga Sunda Tangerang, kata ‘Aing’ juga mengandung makna arti kebanggan, dan gaul, karna target pelestarian bahasa Sunda ini ditunjukan kepada kalangan muda generasi Sunda Tangerang yang sudah enggan menggunakan bahasa Sunda, selain itu kata ‘Aing’ ini ditonjolkan juga untuk memberikan segi opini baru bahwa Sunda Tangerang itu Unik bukan Kasar, Sunda Tangerang memilki keunikan kosakata, Istilah,  dan dialek tersendiri.

Tangerang, 18 November 2018
Muhamad Nur, SS.

.
.
.
.
.
#aingtangerang #aingurangsundatangerang #suntang #sundatangerang #outletaingtangerang #barudaksundatangerang  #sundatangeranguniklainkasar #tangerangjasa #hayuulinkatangerang #aingtangerangtv

Rabu, 17 Oktober 2018

Penggunaan kata 'URANG' dalam bahasa Sunda

"Urang" dalam bahasa Sunda memiliki tiga arti atau dikontek penggunaan.

1.Urang = Saya,
Urang memiliki arti sebagai kata ganti orang tunggal yaitu Saya, Contoh: "Urang hayang ceurik" (Saya ingin nangis). 2.Urang = Kami/Kita
Urang memiliki arti sebagai kata ganti orang jamak yaitu kami/kita, Contoh: "Urang hirup didunya ngan samentara" (Kita hidup didunia hanya sementara)

3.Urang = Orang (Asal)
Urang juga memiliki arti kata asal orang darimana, Contoh : "Urang Sunda Tangerang" ( Orang Sunda yang berasal dari Tangerang)

Urang tidak bisa dipakai untuk diartikan 'orang' secara umum. Contoh : "Ada orang di luar" tidak bisa "aya urang di luar". Sebagai penggantinya adalah 'jalma, jalmi, atau jelema'. "Aya jelema di luar".
.
.
Aya nu dek nambahan???
.
.
Salam Sunda Tangerang,
Aing Tangerang.
.
.
.
.
#aingtangerang #aingurangsundatangerang #suntang #sundatangerang #outletaingtangerang #barudaksundatangerang  #sundatangeranguniklainkasar #tangerangjasa #hayuulinkatangerang #aingtangerangtv

Kamis, 19 Juli 2018

Sunda Tangerang Unik lain Kasar

Sunda Tangerang lain Sunda Kasar, kunaon? Sabab di Tangerang Sunda na teu kapangaruh ku unduk basa jeung kosakatana geh boga kaunikan sorangan.
.
.
Di Sunda Tangerang leuwih sering make kata 'Gede' jang ngartikeun kata 'Besar' (sedangkeun di Sunda Priangan makena 'Ageung')
.
Di Sunda Tangerang leuwih sering make kata 'Jasa' jang ngartikeun kata 'Banget' (sedangkeun di Sunda Priangan makena 'Pisan')
.
Jadi, ulah kaget mun di Sunda Tangerang make kata 'Aing, Sia' jang percakapan sasapoe, sabab di Sunda Tangerang mah hampir teu make kata undukan (Abdi, Simkuring, Meneh Anjeun) ngan jang ngomong formal biasana di Sunda Tangerang ngaganti kata Aing make kata 'Kula atau Urang' jeung kata 'Sia' make kata 'Didinya, Sorangan, atau nama lawan bicarana' jadi nu diganti cukup kata ganti jalemana bae lain sakabeh kosakatana.
.
contohna di Sunda Tangerang mah dek ka kolot atau ka babaturan kata 'ngomong yah ngomong' sedangkeun di Sunda Priangan mah 'nyarios', 'Poe yah Poe' sedangkeun di Sunda Priangan mah 'Dinten', jeung loba keneh contoh2 nu lainna.
.
.
Eta lah kaunikana Sunda Tangerang, sabagai bukti bahwa Sunda eta beragam jeung boga kaunikana masing-masing disatiap daerah.
.
.
Mulai ti kuari mun aya nu ngomong Sunda Tangerang eta Sunda Kasar langsung tembalan nyah "Woy.. Sunda Tangerang Unik lain Kasar"
.
.
.
.
.
#aingtangerang #aingurangsundatangerang #suntang #sundatangerang #outletaingtangerang #barudaksundatangerang #pepatahsuntang #sundatangeranguniklainkasar #banggajadiurangsundatangerang #tangerangjasa #waroengaingtangerang #persitaday #persita #pendekarcisadane #sunda #dagelansunda #dagelanbanten #dagelanjabar #dagelan #sundaunik #papatahsunda #tangerang #tangerangadem #hayuulinkatangerang #wisatatangerang #kaostangerang #tangeranggemilang #tangeranghits #infotangerang

Kamis, 14 Juni 2018

Istilah Sunda Tangerang (Nganteuran)

Nganteuran (b.indonesia na nganterin) umumna dilakukeun ku nu ngora nganteuran ka nu leuwih kolot atawa ti anak ka kolot na atawa mitohana.
.
.
Biasana menjelang lebaran kieu mun di Tangerang loba nu nganteuran, tapi nganteuran teu kudu pas menjelang lebaran bae, bisa pas muluddan, ruwahan, jeung poe2 lainna.
.
.
.
Nganteuran mun jaman bareto mah make tenong atawa rantang nu dijerona aya sagala macem kadaharan kos sangu, sayur, kentang, lauk, jsb.
.
.
.
Saha didieu nu tetep ngaleustarikeun tradisi Nganteuran?

Istilah Sunda Tangerang (Poe Nyenggol)

Pernah ngadenge istilah "Poe Nyenggol"? Poe Nyenggol nyaeta salah sahiji istilah nu aya dikalangan Sunda Tangerang, istilah ieu biasana datang pas katereh ka poe lebaran, istilah ieu paling dikenal ku kaum ibu-ibu sabab ieu berhubungan jeung balanja.

Nyak Poe Nyenggol nyaeta kagiatan balanja ka pasar samemeh lebaran, biasana dua poe atawa sapoe samemeh lebaran, Poe arti bahasa Indonesiana (Hari) sedangkeun nyenggol (Senggol/Kesenggol) jadi Poe Nyenggol nyaeta (Harinya Senggol-Senggolan) kos lagu dangdut bae nyah hehehehe...

Disebut Poe Nyenggol kusabab samemeh lebaran biasana di pasar rame jasa jadi nu balanja pa senggol-senggol.

Saha nu sok balanja di Poe Nyenggol?
Sing hade ulah nyenggol pamajikan batur nyah lur....

Senin, 23 April 2018

Aing Tangerang jang saha?

Aing Tangerang jang saha???

Di artikel iyeu urang dek nulis na pull (maklum sunda teu bisa pake F) make Sunda Tangerang.
Kenakeun bae mun aya nu teu ngarti, atuh yah tinggal tanya bae naon artina ka babaturan atawa dulur didinya nu urang Sunda Tangerang, sabab nu urang Sunda Priangan geh lieur mun maca tulisan urang Sunda Tangerang mah hehehee…

Perkenalkeun nama urang Muhamad Nur, S.S. atawa biasa dipanggil Kang Udel, Gelar S.S eta lain Sarjana Sunda nyah, obong-obong ngurusan pelestarian bahasa Sunda gelar na Sarjana Sunda ceunah, eta S.S tea Sarjana Sastra ngan Sastra na Satra Inggris, (nyak urang kuliah na nyokot Sastra Inggris, kaseseret eta geh awalna mah) tapi yah alhamdulillah jadi nyaho ka dunia per Sastraan jeung bisa ngomong kos urang bule kitu tah….

Geus perkenalan na nyah kuari bahas sesuai judul, judul na naon sih, ohh heeh pohoan,  judulna eta “Aing Tangerang jang saha???” kunaon urang milih judul na kitu, ya atuh hayang make judul eta bae emang teu meunang? Dihh kok sia heras? (make gaya budak Sunda Tangerang mun keur adu omong hehehe..)
Balik deui ka pembahasan, keur eta babaturan urang sebut bae si Tile (Ngaran na ku urang samarkeun soalna besing leuwih terkenal katimbang urang) keur ngopi dihareupen imah urang sembari dibaturan ku kulub dangdeur si Tile nanya ka urang, kieu yeuh :

“ Del, sia nyieun Aing Tangerang jang naon sih?”

Laju ku urang jawab : “kieu le awalna, aing sok sedih mun aya jalema nu ngomong Tangerang eta teu boga budaya, teu boga identitas, Betawi lain, Sunda lain, Jawa lain kitu ceunah, terus akhirna daek teu daek aing balajar tentang kabudayaan jeung identitas Tangerang, Horengan Tangerang eta jauh leuwih keren katimbang daerah-daerah lain, kunaon? Sebab warga asli Tangerang eta beragam, aya Betawi, Aya Jawa, Aya Sunda, encan pendatang na nu datang ti berbagai daerah. Jadi justru eta identitas Tangerang sebagai daerah nu beragam, leuwih kaya budaya katimbang daerah lain”.

“Tapi, kunaon loba jalema nu teu nyaho tentang kaberagaman budaya nu aya di Tangerang?” Si Tile nimpahan pertayaan deui ka urang.

“nah iyeu kelemahanna le, emang bener Tangerang eta beragam budayana tapi ti warga aslina masih kurang kuat ngapromosikeun jeung ngalestarikeun kabudayaan anu aya sahingga loba jalema diluar nu teu nyaho ka kaberagaman nu aya di Tangerang”.

Mantas nyurumput kopi urang ngalanjutkeun jawaban, “contohna bae yeuh Sunda Tangerang, kabudayaan asli urang le, anu bahasa na sapopoe urang pake, kuari geus mulai ditinggalkeun le, loba barudak leutik kuari nu geus teu ngarti bahkan teu nyaho ka bahasa asli Sunda Tangerang, komo ka budayana mah geus loba nu teu nyaho, pangaruh na macem-macem, mulai ti kolot na nu teu ngajaran walaupun kolot na oge urang Sunda Tangerang teuing kunaon tah teu daek ngajaran, terus pemuda na kuari mah ararisin mun ngomong Sunda ceunah, dianggap na bahasa Sunda bahasa Kampung, nu mantak mun geus nongkrong di KAEFCE bae geus mbung eta ngomong pake bahasa Sunda Tangerang, encan opini ti luar nu nyebutkeun Sunda Tangerang mah ceunah Sunda na Kasar, yeuh dengekeun, dek disebut Kasar, dek disebut naon ke, atuh iyeu mah emang bahasa urang kaayaana kieu, bahasa nu diwariskeun ti kokolot bahela emang kos kieu, sabab emang bahasa Sunda Tangerang mah teu kapangaruh ku unduk basa laju emang bahasa mah teu bisa dibanding2 keun, kitu tah le”

“heeh bener oge nyah del, laju kumaha del carana supaya kaberagaman budaya nu aya di Tangerang bisa dikenal?” Si Tile nanya deui nambah panasaran, katempoan ti beunget na…

“carana sabenerna gampang le, urang teu kudu pusing-pusing nyieun kabudayaan khas Tangerang nu anyar,  kos nyieun tarian na naon, alat musik na naon, jeung sajenisna, padahal mun hayang kabaragaman budaya di Tangerang eta dikenal, yah urang tinggal gali deui bae hal-hal nu aya disatiap kabudayaan warga asli Tangerang, jadi nu urang Betawi hayu lestarikeun Betawi khas Tangerang na, nu urang jawa daerah pesisir Tangerang hayu lestarikeun Jawa khas Tangerang na, jeung urang geh sabagai pemuda Sunda Tangerang na hayuu urang babarengan ngalestarikeun budaya jeung bahasa Sunda Tangerang, nah mun kitu kan ngeunah jadina, ke jalma luar geh bisa nyaho ka kaberagaman budaya nu aya di Tangerang.

“Heeh del, ngarti aing kuari… pertanyaan terakhir del, laju Aing Tangerang eta Jang saha? Apa jang ngeunalkeun budaya jeung bahasa Sunda Tangerang ka umum atawa jang pamerentah atawa jang saha del? Si Tile mere pertanyaan terakhir ceunah mah.

“Aing Tangerang jang saha??? Aing Tangerang eta jang kabehan le, Aing Tangerang eta dijieun lain jang kapentingan pribadi tapi jang kabehan, Aing Tangerang sabagai media kreatif pamuda nu  ngalestarikeun budaya jeung bahasa Sunda Tangerang bisa oge memotivasi pemuda nu ti Betawi Tangerang jeung Jawa Tangerang supaya bisa babarengan ngalestarikeun kabudayaan warga asli Tangerang, Aing Tangerang oge bisa ngabantu pamarentah dalam hal pelestarian kabudayaan lokal, Aing Tangerang oge bisa sebagai wadah jang warga Sunda Tangerang diberbagai bidang, contohna dalam usaha mikro atawa usaha kreatif lainna, Aing Tangerang oge bisa jadi media anu ngenalkeun kaunikan bahasa Sunda Tangerang.” Urang ngajawab na bari samangat jasa.

Bari nga-gayeum kulub dangdeur anu peulem jasa urang nambahan deui “Nu mantak di Aing Tangerang dijieun program-program usaha, contohna nu geus jalan, usaha merchandise Sunda Tangerang, salain bisa ngeunalkeun kata-kata Sunda Tangerang melalui Kaos, Topi, Pin, Stiker, Jeung nu laiina, urang oge bisa meunang kauntungan jeung Alhamdulillah kauntungana lain dipake jang pribadi tapi jang ngabiayaan program-program pelestarian Sunda Tangerang, sabab Alhamdulillah di Aing Tangerang mah eweuh donator atawa badan usaha baik swasta atawa pamarentah anu ngabiayaan ssttt *Kode keras hehehehe…. Kahareupna oge bakal aya Waroeng Aing Tangerang eta bakal jadi wadah promosi jeung penjualan jang produk-produk lokal, kitu tah le”

“Heeh del geus kaharti kabeh ku aing naon maksud sia, hayu atuh lah urang babarengan ngajalankeun program-program Aing Tangerang” Si Tile nutup make kalimat memotivasi hehehee…

Berhubung kopi geus mulai saat jeung kulub dangdeur geus ludes beak kabeh akhirna perbincangan di harita di tutup.

Aya pesen nu urang dek sampekeun ka kabeh pemuda Sunda Tangerang khususna, bangga lah ka bahasa asli daerah sorangan, hayu nu boga kaahlian di media kreatif, design, editor, wirausaha, hayu babarengan merapat ka Aing Tangerang, urang tunjukeun bahwa Pamuda Sunda Tangerang eta aya jeung boga kabisa, hayu urang tuangkeun ide jeung pikiran urang jeung program-program Aing Tangerang kahareupna.

Tangerang, April 2018
Muhamad Nur, S.S (Kang Udel)

Salam Sunda Tangerang,

MANG ATANG (MASKOT AING TANGERANG)

kata "Mang" dipake Masyarakat Sunda Tangerang jang sebutan ka jelama usia paruh baya alias kolot teuing teu ngora teuing teu, ...