Senin, 19 Maret 2018

FKS AING URANG SUNDA TANGERANG

Forum Komunikasi & Silaturahmi (FKS) “AING URANG SUNDA TANGERANG”
Sebuah awal gerakan pelestarian kebudayaan lokal dan Bahasa Ibu (Sunda Tangerang).

Dikutip dari Wikipedia Bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harafiah mother tongue dalam bahasa Inggris) adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Dan orangnya disebut penutur asli dari bahasa tersebut. Biasanya seorang anak belajar dasar-dasar bahasa pertama mereka dari keluarga mereka.

Di Tangerang, terdapat berbagai Bahasa Ibu yang digunakan oleh warganya, bahasa tersebut yaitu: Bahasa Sunda, Bahasa Betawi, dan Bahasa Jawa. Bahasa Sunda Tangerang  merupakan Bahasa Ibu yang digunakan oleh warga Sunda Tangerang yang memiliki keunikan kosakata dan dialek/logatnya tersendiri yang cukup berbeda dengan Sunda Priangan dan sekitarnya. Namun sayangnya, karna perkembangan zaman, semakin lama Sunda Tangerang mulai ditinggalkan oleh warganya sendiri terutama kalangan pemuda, mereka lebih bangga menggunakan bahasa zaman now atau bahasa gaul yang menurut mereka itu terdengar lebih modern sedangkan Bahasa Ibu mereka sendiri ditinggalkan karna alasan tidak gaul, kurang enak didengar, dan terkesan kampungan. Selain itu mereka juga sudah tidak lagi mengenal kebudayaan lokalnya sendiri karna sudah dipengaruhi oleh kebudayaan dari luar yang diperolehnya dari lingkungan pergaulan dan gadget yang digunakan setiap hari.

Menaggapi permasalahan dimana kebudayaan lokal dan Bahasa Ibu Sunda Tangerang sudah mulai ditinggalkan, maka beberapa pemuda Sunda Tangerang yang menamai tim nya yaitu ‘Aing Tangerang’ membuat sebuah gerakan pelestarian Sunda Tangerang, gerakan ini merupakan gerakan pelestarian kebudayaan lokal dan Bahasa Ibu Sunda Tangerang dengan kegiatan yang menarik, kreatif, dan positif.

“Beberapa kegiatan yang kami lakukan seperti membuat sebuah akun media sosial ‘Aing Tangerang’ sebagai platform kami melestarikan Bahasa Ibu Sunda Tangerang tujuannya agar lebih mudah diterima khususnya oleh para pemuda, jadi kami sebisa mungkin membuat konten yang menarik sehingga bisa diminati oleh kalangan muda, kemudian kami juga membuat merchandise seperti Kaos, Topi, Pin, Sticker dll sebagai salah satu media untuk mempopolerkan kosakata khas Sunda Tangerang. Selain itu, kami juga membuat wadah bagi siapapun yang ingin turut serta bersama kami melestarikan budaya dan bahasa Sunda Tangerang dan wadahnya ini kami namai “Forum Komunikasi & Silaturahmi (FKS) Aing Urang Sunda Tangerang”. Ujar Kang Udel yang merupakan salah satu founder Aing Tangerang.

Pada hari minggu 18 Maret yang lalu telah diadakan acara Kopdar yang pertama bagi FKS Aing Urang Sunda Tangerang, Kopdar yang dilakukan disore hari ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak kecil, pemuda hingga orang tua, acara Kopdar ini bertujuan agar ikatan silaturahmi semakin kuat dan misi melestarikan kebudayaan lokal dan Bahasa Ibu Sunda Tangerang semakin digelorakan. Sekitar 70orang hadir dalam kegiatan ini, mereka datang bersama pasangan, keluarga, anak, dan sanak keluarganya.

“Sejauh ini kita saling berinteraksi di grup whatsapp, kemudian ada permintaan untuk melakukan Kopdar agar bisa kenal satu sama lain dan silaturahmi lebih erat, maka dari itu kami membuat acara Kopdar ini, rencananya acara kopdar seperti ini akan kami lakukan per satu bulan sekali”. Ungkap Kang Agus selaku tim dan founder Aing Tangerang.

Acara Kopdar yang pertama ini berlangsung cukup lancar, tak jarang disela perbincangan terdapat candaan-candaan khas Sunda Tangerang yang dikeluarkan baik oleh tim Aing Tangerang maupun oleh peserta FKS Aing Urang Sunda Tangerang. Wajar saja karna diacara Kopdar ini dari sesi pertama perkenalan sampai penghujung acara seluruh peserta Kopdar menggunakan bahasa Sunda Tangerang sehingga membuat suasana sangat terasa kental kearifan lokalnya.

“kami mengajak bagi siapapun, khususnya para kaula muda yang ingin bersama-sama melestarikan kebudayaan lokal dan Bahasa Ibu Sunda Tangerang, untuk bergabung di FKS Aing Urang Sunda Tangerang selanjutnya, ini sebuah wadah Forum bukan sebuah organisasi jadi bagi siapapun bisa ikut dalam Forum ini, tidak ada persyaratan tertentu untuk bergabung yang penting ikut serta melestarikan kebudayaan dan bahasa Sunda Tangerang”  ajakan dari Ida, Yuli, Teh Enok, dan Hendri yang merupakan Tim Aing Tangerang disela acara Kopdar FKS Aing Urang Sunda Tangerang.

Harapanya gerakan ini menjadi gerakan yang sangat positif bagi kalangan pemuda Sunda Tangerang, kami juga mengharapkan dukungan penuh bagi seluruh warga Sunda Tangerang dan kalangan pemerintah atas gerakan pelestarian budaya dan bahasa Sunda Tangerang ini sehingga nantinya anak cucu kita masih bisa mempertahankan Bahasa Ibu Sunda Tangerang sebagai identitasnya. (Aing Tangerang)

Jumat, 02 Maret 2018

SUNDA TANGERANG

SUNDA TANGERANG
Bahasa Ibu yang harus kita lestarikan, Tanpa Alasan…
Ditulis oleh : Muhamad Nur, S.S. (Kang Udel)


Sebenarnya saya ini bukan 100% berdarah Sunda, karna status bapak saya yang Wong Malang, Jawa Timur.  Jadi, bisa dikatakan saya ini turunan MATANG (Bapak Malang-Ibu Tangerang) tapi, saya merasa bangga terlahir dilingkungan Sunda Tangerang, sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan bahasa Ibu saya ini yaitu Sunda Tangerang, Emak dan ketiga Teteh saya juga sangat menguasai Sunda Tangerang, kami selalu menggunakan bahasa Sunda Tangerang dalam komunikasi sehari-hari, hanya ketika berkomunikasi dengan Bapak saja saya dan keluarga menggunakan bahasa Indonesia.
Dimasa kecil nan indah, sekitar tahun 2000, saya bersama teman saya selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda Tangerang, sangat lepas berbicara menggunakan bahasa kabanggan daerah kami ini, tanpa ada sedikit pun keraguan, bahkan ketika saya bermain dengan teman kecil kalau ketauan berbicara menggunakan bahasa Indonesia saya pasti diledek, wajar saja, karna pada saat itu trendnya didesa saya kalau anak kecil yang menggunakan bahasa Indonesia ketika bermain hanyalah anak dari pendatang asal kota atau daerah lain yang tinggal didesa kami,itupun kami selalu membiasakan si anak pendatang terbiasa dengan bahasa kami, hingga akhirnya dia pun menguasai bahasa Sunda Tangerang. Yah pada masa itu, Sunda Tangerang masih sangat kental didesa saya, identitas Sunda Tangerang sangat terasa dan kami para warganya menunjukannya dengan menggunakan kebudayaan, adat, serta komunikasi dalam Sunda Tangerang.

Lain dulu lain sekarang, kini Sunda Tangerang sudah mulai menghilang, Sudah cukup jarang bahkan biasa dikatakan tidak ada lagi anak kecil yang bermain disekitar rumah saya kini yang menggunakan bahasa Sunda Tangerang, banyak faktor yang mengakibatkan Sunda Tangerang mulai tak lagi digunakan oleh generasi masa kini dan faktor terbesarnya yang sangat terasa adalah karna mulai ramainya Tangerang oleh para pendatang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib didaerah sejuta industry ini. Banyak  para pendatang dari berbagai daerah di Tangerang sehingga penggunaan bahasa nasional atau bahasa Indonesia lebih dominan di Tangerang khusunya dikalangan anak kecil dan pemudanya. Namun dalam hal ini, saya tidak akan menyudutkan para pendatang yang ada di Tangerang karna bukan hak saya menyudutkan orang yang merantau ke Tangerang, selagi mereka mengikuti aturan Negara dan norma-norma yang ada yah sah-sah saja tinggal di Tangerang ditambah status dari Bapak saya juga yang notabennya adalah seorang pendatang yang kemudian menikahi Ibu saya yang asli Tangerang, justru disini saya lebih ingin memberi sedikit sentilan kepada warga asli Sunda Tangerang khususnya para pemuda yang mulai meninggalkan bahasa asli Sunda Tangerang, entah mungkin karna gengsi atau ingin terlihat lebih milenial sehingga tidak mau lagi menggunakan dan melestarikan kebudayaan dan bahasa yang diwariskan oleh pendahulunya.

Sebenarnya, banyak juga rekan-rekan saya yang berasal dari luar daerah Tangerang seperti dari Jawa dan Sumatra yang merantau ke Tangerang dan menetap di Tangerang yang pada akhirnya mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda Tangerang, yah walaupun masih terdengar aneh logat/dialeknya, Tapi hal ini terjadi karna memang mereka berada dilingkungan para pemuda Tangerang yang konsisten menggunakan bahasa Sunda Tangerang maka dengan sendirinya mereka juga ikut serta menggunakan bahasa dimana mereka tinggal. Dengan adanya contoh hal ini, kita bisa simpulkan bahwa jika dari warga Tangerang khususnya pemudanya konsisten dalam menggunakan bahasa Sunda Tangerang maka para pendatang pun akan berusaha beradaptasi dan membiasakan diri menggunakan bahasa dimana mereka tinggal, kalau di Tangerang salah satunya yaitu Sunda Tangerang.

Saya kuliah mengambil jurusan Sastra Inggris, selama 4tahun saya bukan hanya mempelajari tentang bidang Sastranya saja namun juga memepelajari yang namanya ‘Linguistic’ atau ilmu bahasa yah tentunya ilmu bahasa Inggris, sampai akhirnya mampu menguasai bahasa Inggris, setelah wisuda bisa menggunakan kemampuan bahasa Inggris untuk karir, sampai saat ini saya berkerja diperusahaan pun menggunakan kemampuan bahasa Inggris saya, baik written ketika berkomunikasi dengan vendor dari berbagai dunia via email maupun oral ketika berbicara dengan para expat. namun, saya memiliki keteguhan hati untuk tetap menggunakan bahasa ibu atau kalau versi Inggrisnya (Mother Language) yaitu Sunda Tangerang untuk berkomunikasi dengan keluarga, rekan, atau orang yang baru kenal namun dia orang Sunda. Karna bagi saya, bahasa Inggris memang perlu untuk menunjang karir saya, bahasa nasional juga wajib pastinya, dan satu lagi bahasa Ibu juga tidak akan saya lupakan, karna itulah sebagai identitas saya dan daerah saya.

Disuatu hari disalah satu SPBU diwilayah kab.Tangerang saya bertemu dengan beberapa anak wanita SMA berjumlah kurang lebih 6 orang, mereka mengendarai sepeda motor lalu hendak mengisi bahan bakar dan saya persih dibelakang mereka, dari cara bicara mereka dan memperhatikan logat bicaranya saya yakin beberapa dari mereka berasal dari keluarga Sunda Tangerang, namun saya perhatikan kembali memang ada 1 teman mereka yang bukan asli Sunda Tangerang alhasil mereka pun berbicara menggunakan bahasa Indonesia, mereka berbicara menggunakan bahasa gaul gitu, tapi sayangnya logat Sunda mereka masih terindetifikaasi oleh saya, yang lebih lucunya lagi, satu diantara mereka, yang justru logat Sundanya paling kental, mencoba mencampur kata-kata pembicaraanya menggunakan kata bahasa Inggris, yah walaupun tidak banyak kata-katanya tapi dia melakukan itu mungkin dengan tujuan supaya bisa dianggap paling gaul gitu, cuman hal itu malah membuat saya tak bisa menahan tawa, kesannya kaya memaksakan banget. Jadi si anak itu bilang ‘hah What’ (dengan logatnya yang tak bisa dihilangkan) ketika pembicaraan temannya tidak terdengar olehnya, sontak ketika mendengar kata itu saya langsung tertawa, yang saya tertawakan adalah bukan karna ‘pronunciation’ atau cara pengucapan kata si Anak tersebut yah walaupun itu juga terdengar aneh tapi saya ketawa karna si anak ini terlalu memaksakan dirinya untuk memasukan kata Inggris kedalam pembicaraan namun dalam kontek yang kurang tepat, kata ‘What’ mungkin jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi kata ‘Apa’ mungkin maksud si anak tersebut versi Indonesianya “Hah Apa?” tapi dia rubah menjadi ‘hah What?” nah hal ini lah yang cukup menggelitik saya, pertama ada kata “hah” yg Indonesia banget sebelum kata “What” dan yang kedua, sebenarnya kalau versi Inggris ketika kita tidak mendengar pembicaraan seseorang dan kita meminta untuk lawan bicara kita mengulanginya lagi sangat tidak dianjurkan menggunaka kata “What”, kata yang lebih tepatnya yaitu “Pardon” atau “Pardon me” atau lebih sopanya lagi “I beg your pardon sis/sir” .

Dalam cerita diatas kesimpulannya, si anak tersebut berasal dari Sunda Tangerang namun karna faktor pergaulan dia lebih bangga dan percaya diri berbicara bahasa gaul plus campuran kata Inggris, kedalam pembicaraanya agar terkesan keren… tapi jatuhnya kalau menurut penilaian saya malah gak ada kerennya sama sekali. Ini lah gambaran situasi generasi pemuda Sunda Tangerang, beberpa dari mereka jauh lebih bangga menggunakan bahasa gaul ketimbang melestarikan bahasa ibu atau bahasa asli daerahnya sendiri. Yah walaupun ada juga beberapa yang masih konsisten menggunakan Sunda Tangerang namun jumlahnya masih kalah banyak dengan mereka yang memilih berkomunikasi menggunakan bahasa gaul. Contoh lainnya seperti, Nongkrong dicafe atau direstaurant cepat saji ngomongnya sok-sok gua-elu, yoi mamen, padahal pesennya cuma minum doang, pacaran belum nikah pada manggil ayah-bunda, padahal dirumah makannya sama pais ikan peda hehehehe…. Kebanyakan lebih bangga dibilang bro dan sist daripada dibilang akang atau neng.

Amat sangat disayangkan jika kondisi ini terus berlanjut, semakin lama maka Sunda Tangerang semakin hilang ditinggalkan oleh para penerus didaerahnya sendiri, bisa jadi nanti anak cucu kita sudah tidak mengenal sama sekali bahasa ibu kita yaitu Sunda Tangerang. Maka melalui gerakan Aing Tangerang wadah untuk pelestarian budaya dan bahasa Sunda Tangerang dan Forum Komunikasi Aing Urang Sunda Tangerang kami mengajak seluruh warga Sunda Tangerang baik tua maupun muda untuk sama-sama bersinergi melestarikan bahasa ibu kebanggaan kita yaitu bahasa Sunda Tangerang.

Jangan karna alasan kemajuan zaman, perkembangaan gaya hidup, situasi Tangerang yang daerah Urban membuat kita rela meninggalkan bahasa asli Sunda Tangerang, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan bahasa bahasa asli daerah sendiri, mulai dari sekarang mari lestarikan keunikan dan kekayaan budaya dan bahasa Sunda Tangerang.


Hayu lah ti kuwari urang babarengan mulai lestarikeun budaya jeung bahasa Sunda Tangerang, ulah sampe budaya jeung bahasa Sunda Tangerang leungit ti daerah asalna iyeu.


Salam Sunda Tangerang,
Muhamad Nur, S.S. (Kang Udel)

Kamis, 01 Maret 2018

SUNDA TANGERANG

SUNDA TANGERANG
Mulai ditinggalkan karna stigma yang salah…
Ditulis oleh : Muhamad Nur / kang Udel (Founder Aing Tangerang)


Tangerang merupakan daerah yang memiliki keberagaman suku, budaya dan bahasa, terdapat berbagai suku yang ada ditangerang yaitu, suku Sunda, suku Jawa, dan suku Betawi. suku Sunda meliputi hampir diseluruh wilayah Tangerang, untuk suku Jawa meliputi wilayah pesisir utara Tangerang sedangkan suku Betawi meliputi wilayah sebagian kota dan selatan Tangerang, serta ada juga Suku Arab dan China di Tangerang yang berdasarkan sejarah suku/budayanya ini dibawa oleh para pedagang dari Arab dan China yang menetap dideretan daerah Tangerang.

Suku Sunda merupakan suku terbesar diwilayah Tangerang, uniknya Sunda Tangerang memiliki bahasa dan dialek yang berbeda dengan Sunda Periangan. Sunda Tangerang memiliki ciri khas kosakata tersendiri seperti kata : Hees (Tidur), Jasa (Banget), Maeunya (Masa Sih), Heeh (Iya), Jing (Sih), dll. Selain itu, masyrakat Sunda Tangerang juga memiliki dialek atau logat yang lebih kental dengan nada yang meliuk-liuk, berbeda dengan logat Sunda Priangan yang memiliki dialek yang lebih rendah dan berayun-ayun.

Seiiring perkembangan zaman, wilayah Tangerang menjadi salah satu wilayah industri terbesar di Indonesia, dengan maraknya pembangunan kawasan industri, Tangerang menjadi magnet bagi para pendatang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di Tangerang yang akhirnya merubah Tangerang menjadi daerah Urban. Dengan maraknya para pendatang membuat daerah Tangerang menjadi semakin beraneka ragam, karna terdapat masyarakat dari berbagai suku yang hidup saling berdampingan. Namun sayangnya, bahasa asli daerah Tangerang khususnya Sunda Tangerang perlahan mulai tidak digunakan dan bahkan tidak dikenal oleh kalangan pemudanya, selain itu ada juga stigma negatif dari kebanyakan orang terhadap Sunda Tangerang yang membuat eksistensi Sunda Tangerang semakin terpuruk.

Kebanyakan orang memiliki stigma negatif bahwa bahasa Sunda Tangerang itu merupakan bahasa Sunda kasar, Perlu diketahui bahwa stigma bahasa Sunda Tangerang itu Sunda Kasar sangatlah Salah, kenapa? Karna Sunda Tangerang itu tidak tergolong dalam tatanan bahasa Sunda Periangan, kemudian memang bahasa Sunda Tangerang begini adanya, memiliki ciri khas kosakata dan dialek/logat tersendiri yang berbeda dengan Sunda Priangan pada umumnya.
Bahasa itu tidak bisa bandingkan antara bahasa daerah satu dengan bahasa didaerah lainnya meskipun itu memiliki bahasa yang sama contohnya dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa Tegal berbeda dengan bahasa Jawa Jogja atau Jawa Timur lainnya meskipun tergolong sama-sama Jawa tapi perbedaannya sangat terasa, namun beruntungnya bahasa Jawa Tegal lebih dikenal dengan bahasa Jawa Ngampak. Bukan bahasa Jawa Kasar, begitu juga didaerah Serang, Banten, terdapat Bahasa Jawa yang beruntungnya juga lebih dikenal dengan Bahasa Jawa Serang (JASENG), lalu kenapa ketika bahasa Sunda Tangerang berbeda dengan daerah Bandung dan sekitarnya lalu dikenal dengan bahasa Sunda Kasar??? Toh ini terlihat sangat tidak adil bukan?

Stigma negatif yang membawa ketidak adilan ini lah yang harus diluruskan, banyak yang menganggap Sunda Tangerang kasar karna terlalu sering membandingkannya dengan Sunda Priangan, mereka memaksakan bahasa Sunda Tangerang masuk dalam tatanan Sunda Priangan padahal pada kenyataanya bahwa Sunda Tangerang sangat berbeda dan memiliki kosakata tersendiri, ditambah pelajaran buku pendidikan bahasa Sunda yang ada dan digunakan disekolah-sekolah yang ada di Tangerang masih menggunakan rujukan Sunda Priangan yang mengandung ‘Hierarki’ atau tingkatan dalam bahasa Sunda sehingga, stigma negatif ini diperkuat oleh adanya penggunaan beberapa kata yang dianggap kasar oleh Sunda Prinagan atau daerah Bandung contohnya namun di Tangerang kosakata tersebut yah biasa saja dan sering digunakan. 

Contoh dalam penggunaan kata ‘Aing’ (Saya), orang Bandung menggunakan kata ‘Aing’ dalam kontek yang sangat negatif, seperti dalam keadaan marah misalnya, namun penggunaan kata ‘Aing’ di Tangerang sah-sah saja digunakan dalam kontek mengobrol santai. Dan sayangnya kebanyakan orang hanya meilhat kata ‘Aing’ namun tidak memahami kosakata pengganti lainnya yang dimiliki oleh Sunda Tangerang, jika di Bandung ada kata ‘Abdi dan Simkuring’ sebagai pengganti kata ‘Aing’ ketika berbicara dengan orang yang lebih tua untuk hal kesopanan, di Tangerang juga kami memiliki kata ‘Urang dan Kula’ sebagai pengganti kata ‘Aing’ dan kata ‘Kula’ itu tidak dipakai oleh warga Bandung, maka disinilah menunjukan bahwa sebenarnya Sunda Tangerang memiliki kosakata sendiri yang berbeda dengan Sunda Bandung. Contoh lainnya yang menunjukan Sunda Tangerang memiliki kata yang khas adalah, kata ‘Banget’ dalam Sunda Tangerang kami menggunakan kata ‘Jasa’ sedangkan di Bandung menggunakan kata ‘Pisan’ dan kata ‘Jasa’ ini tidak digunakan di Bandung dan itu bukan termasuk bahasa kasar dalam tatanan Sunda Priangan.

Saya masih ingat sekali ketika saya masih SMP dan saat pelajaran bahasa Sunda, guru bahasa Sunda saya sempat menggertak saya karna saya menggunakan kata ‘Eweuh’ (Tidak Ada), saat itu memang guru bahasa Sunda saya berasal dari Bandung, beliau mneggertak saya sambil berkata ‘ Jangan pake ‘Eweuh, tapi ‘Teu Aya’…. Yah orang Bandung memang tidak menggunakan kata ‘Eweuh’ karna dianggap kasar, sedangkan kami orang Sunda Tangerang mah sah-sah saja menggunakan kata ‘Eweuh’ baik berbicara dengan yang muda maupun tua. Namun, karna peran saya sebagai murid maka saya pun berusaha mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang guru walau itu terasa janggal bagi saya yah karna emang uda biasa pake ‘Eweuh’. Begitu pula ketika saya berbicara dengan teman saya yang berasal dari Bandung, saya berusaha menggunakan bahasa Sunda Priangan untuk mendapatkan jalinan komunikasi yang baik, walau terkesan dipaksakan dan terkadang teman saya juga mentertawakannya, tapi itu lah yang dinamakan saling menghargai dan toleransi dalam hal bahasa, walau kita sama-sama Sunda ternyata sangat terasa perbedaannya, alhasil terkadang kita menggunakan bahasa Indonesia untuk menghindari kesalahpahaman.

Yah intinya melalui artikel ini saya ingin menunjukan kepada pihak yang masih menganggap bahwa bahasa Sunda Tangerang itu bahasa Sunda yang kasar, tolong dihilangkan, karna maaf, kata kasar itu agak membuat kami risih bahkan sakit hati karna konotasinya yang negatif, berhentilah membandingkan bahasa Sunda Tangerang dengan bahasa Sunda lainnya dan ketahuilah bahwa Sunda Tangerang memiliki ciri khas kosakata dan dialek/logat tersendiri, perbedaan ini lah yang merupakan kekayaan keberagaman yang dimiliki oleh Negara kita tercinta yaitu Indonesia.
Juga bagi para warga Sunda Tangerang khususnya para pemudanya, ayo sama-sama kita tunjukan kepada semua orang bahwa bahasa Sunda Tangerang itu bukan bahasa Sunda yang kasar melainkan bahasa Sunda yang memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri.


Hayu babareungan urang lestarikeun budaya jeung bahasa Sunda Tangerang, mun lain urang dek saha deui? ulah isin nyah ngomong pake bahasa Sunda Tangerang, hayu urang populerkeun bahasa Sunda Tangerang make cara anu kreatif, positif jeung mangpaat…



Tangerang, 1 maret 2018.
Salam Sunda Tangerang,
Kang Udel.

MANG ATANG (MASKOT AING TANGERANG)

kata "Mang" dipake Masyarakat Sunda Tangerang jang sebutan ka jelama usia paruh baya alias kolot teuing teu ngora teuing teu, &quo...